Sukanto Tanoto kini jadi orang paling kaya di Indonesia

13 Desember 2008

Sukanto Tanoto kini jadi orang paling kaya di Indonesia. Harta bersih 40 orang terkaya Indonesia melorot hingga 50%.. Tapi, anjloknya harta mereka tak memiliki korelasi positif dengan masyarakat kelas bawah. Mereka tetap survive.

Kenapa tak berkaitan? Risiko penempatan dana orang kaya sangat berbeda jika dibandingkan dengan masyarakat bawah. Orang kaya menempatkannya di investasi berisiko tinggi. Beda dengan masyarakat bawah yang berisiko rendah.

Aviliani, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengatakan, di saat kekayaan bersih orang kaya menurun, maka kekayaan masyarakat bawah tetap menjadi subsistem level. Artinya, tidak ada pergeseran kekayaan bersih mereka.

Justru di tingkat bawah, lanjut Aviliani, krisis ini tidak berdampak signifikan. Pasalnya, sejak krisis 1998 hingga saat ini, masyarakat bawah tetap berkontribusi terhadap 57% pertumbuhan ekonomi (GDP) Indonesia. Aviliani mencontohkan, ketika dia berkunjung ke beberapa daerah, mereka justru bertanya apakah di Jakarta sedang terjadi krisis.

Menurutnya, peredaran uang terbesar terjadi di Jakarta dan pulau Jawa secara umum. Kalau kekayaan kelas atas menurun, tidak berpengaruh terhadap kelas bawah. Pasalnya, konsumsi kelas bawah berbeda dengan konsumsi kelas atas.

Aviliani membuktikan, pertumbuhan ekonomi di luar Jawa yang tidak mengalami pergeseran. “Artinya, krisis ini tidak terkena pada sektor riil sebenarnya,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (12/11).

Bahkan dari sisi daya beli pun, menurut Aviliani, pada level bawah tidak terindikasi adanya penurunan belakangan ini. Kondisi kelas bawah tidak mengalami perubahan karena memang risiko pemanfaatan dana mereka sangat rendah dibandingkan orang kaya. Low risk, low return. High risk, high return,” ujar Aviliani.

Anjloknya kekayaan orang kaya hingga 50% terjadi di pasar sekunder, pasar modal. Pasalnya, penempatan dana mereka di pasar primer sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Artinya, pemanfaatan saham mereka tidak dilakukan saat ini. “Sejak 2007 sampai saat ini, tidak terlalu banyak perusahaan yang IPO,” tukasnya.

Betulkah tidak ada pengaruh bagi masyarakat bawah? Tidak juga. Tapi, efek multiganda itu baru akan terasa pada tahun depan. Pasalnya, perusahaan-perusahaan takkan mengeluarkan obligasi dan saham. Artinya, tak ada ekspansi. “Jika tidak ada ekspansi, tidak ada penciptaan lapangan kerja baru,” tegasnya.

Berkurangnya 50% kekayaan orang kaya, murni karena anjloknya pasar saham akibat krisis finansial. Ini menunjukan, orang kaya tidak menempatkan dananya untuk ekspansi usaha. Kecenderungannya, mereka bermain di bursa.

Jika dana mereka lebih besar ditempatkan untuk ekspansi usaha, harusnya dalam kondisi krisis global seperti saat ini, tak membuat kekayaan mereka menurun. Pasalnya, pasar riil belum turun. “Kalaupun ada permintaan turun paling tahun depan,” katanya.

Artinya, kalau kekayaan mereka turun akibat usaha di sektor riil, penurunan itu baru akan terjadi tahun depan. Krisis di Indonesia, sebagai buntut krisis finansial global, baru dirasakan tiga bulan ini. “Nggak mungkin kekayaan anjlok 50% dalam tiga bulan. Nggak masuk akal. Artinya, kekayaan itu (melorot karena) penempatannya lebih pada portofolio,” kata Aviliani.

Kalau portofolio, harga saham dan obligasi anjlok, bisa dipatikakan pembukuannya turun. Sejak krisis 1998 hingga saat ini kapitalisasi bursa mengalami kenaikan hingga 50%. Jadi memang wajar jika sekarang terjadi penurunan kekayaan sampai 50%.

Daftar roang terkaya di Indonesia, pada 2008 berubah seiring krisis keuangan global. Majalah Forbes Asia menempatkan Sukanto Tanoto sebagai orang terkaya di Indonesia, menggeser posisi Aburizal Bakrie yang kini menduduki peringkat kesembilan.

Dalam siaran persnya dari Singapura, Forbes Asia menyatakan, kekayaan bersih Indonesia merosot drastis dengan anjloknya pasar modal 54% dibandingkan tahun lalu, penurunan harga komoditas, serta pelemahan nilai tukar rupiah. “Sedangkan total kekayaan bersih dari 40 orang terkaya di Indonesia anjlok hampir 50% dibanding tahun lalu sehingga tinggal US$ 21 miliar.

sumber: inilah.com

Entry Filed under: Bisnis, Ekonomi. .

6 Comments Add your own

  • 1. Raffaell  |  13 Desember 2008 at 3:45 am

    Hmmm, tapi tetap seolah olah mereka yang mengendalikan harga ?

    Balas
  • 2. ritasmkn39jkt  |  15 Desember 2008 at 4:59 am

    Klo gw kapan ya jadi orang terkaya???
    tapi ga apa2 deh yang penting kaya hati
    betul ga?????

    Balas
  • 3. Saiful Adi  |  17 Desember 2008 at 11:16 am

    Raffael:
    emang…krn sebangkrutnya mereka jauh lebih kaya dari kita

    Balas
  • 4. atis  |  3 Maret 2009 at 5:54 am

    mengapa terkesan mereka mengendalikan harga

    Balas
  • 5. Cak Win  |  21 Maret 2009 at 5:42 am

    Fotonya gak ada to mas?? :D

    Balas
  • 6. iDiots  |  5 Agustus 2009 at 10:34 am

    saya butuh foto bukan ke tulisan di atas …

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Solusi Keuangan

Program Solusi Keuangan Dana Abadi

Belajar Blog

Blogroll

Heart

Laerning

Linux

Lowongan

Masjid

Motivasi

Sekolah

Solusi Keuangan

Tulisan Terakhir

Arsip

a

Blog Stats

Halaman

Flickr Photos

Falls of Spring - Swinging Bridge, Yosemite National Park, California

Eva

_ at the circus _

More Photos

 

Desember 2008
M S S R K J S
« Sep   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Posts

Tag

Add new tag

Komentar Terakhir

the red di Gaji Jenderal TNI Cuma Rp 3,5…
Barik di Kompetensi yang harus dimiliki…
imam di Fungsi dan Cara Membuat R…
chawank di Koneksi Internet dgn Indosat 3…
torikin di Kompetensi yang harus dimiliki…